KATA PENGANTAR
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa
masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat
akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak
sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang
membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen kami yang
telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas ini.
Sumenep, 08 Oktober 2013
Tim Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan dan Manfaat
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Cara Belajar Siswa Aktif
(CBSA)
B. Rasional CBSA Dalam Pembelajaran
C. Kadar CBSA
D. Kelebihan dan Kekurangan CBSA
E. Rambu-Rambu Penyelengaraan CBSA
F. Evaluasi Belajar dan Pembelajaran
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyelenggaraan pembelajaran merupakan
salah satu tugas utama guru, dimana pembelajaran dapat diartikan sebagai
kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Untuk dapat membelajarkan
siswa, salah satu cara yang dapat ditempuh oleh guru ialah dengan menerapkan
pendekatan CBSA. Pendekatan ini merupakan merupakan pendekatan pembelajaran
yang tersurat dan tersirat dalam kurikulum yang berlaku.
CBSA (Cara Belajar Siswa
Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa
terhadap bahan yang dipelajari. CBSA menuntut keterlibatan mental yang tinggi
sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek
kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif pembelajaran akan
memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar
dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka.
Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara
bersama-sama
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
diuraikan di atas, maka disusun rumusan masalah sebagai berikut :
“Bagaimanakah CBSA konsep
pembelajaran?”
C. Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dan Manfaat dari makalah
yang kami sajikan berikut ini yaitu :
1. Mengetahui bagaimana konsep
pembelajaran
2. Mengetahui kebaikan dan kelemah satu
Sistem CBSA
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) adalah
suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menitik beratkan pada keaktifan siswa,
yang merupakan inti dari kegiatan belajar. Keaktifan belajar terjadi dan
terdapat pada semua perbuatan belajar, tetapi kadarnya yang berbeda tergantung
pada jenis kegiatanya, materi yang dipelajari dan tujuan yang hendak dicapai.
Kegiatan tersebut diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti : mendengarkan,
berdiskusi, membuat sesuatu, menulis laporan, memecahkan masalah, menyusun
rencana, dan lain lain.
Pendekatan CBSA dinilai sebagai suatu
system belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental,
intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan
antara mata kognitif, afektif, dan psikomotorik. Setiap kegiatan menuntut siswa
untuk terlibat secara langsung dan menuntut keterlibatan intelektual-emocional
siswa melalui proses asimilasi, dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan
kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta pengalaman langsung
dalam rangka membentuk ketrampilan (motorik, kognitif, dan sosial), penghayatan
serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap (Raka Joni, 1980,
hal.2)
Pendekatan sistem pembelajaran dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang
sifatnya masih sangat dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari
metode pembelajaran dengan cakupan tertentu. Dilihat dari pendekatannya,
pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan pembelajaran yang
berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered
approach)
2. Pendekatan pembelajaran yang
berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered
approach)
Dari pendekatan pembelajaran yang telah
ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran dan Logan
(Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap
usaha, yaitu:
1. Mengidentifikasi dan menetapkan
spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus
mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya
2. Mempertimbangkan dan memilih jalan
pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai tujuan
3. Mempertimbangkan dan menetapkan
langkah-langkah (steps) yang akan ditempuh sejak titik awal sampai mencapai
sasaran
4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok
ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengetahui/menilai taraf
keberhasilan (achievement) usaha
Pendekatan CBSA dinilai sebagai suatu
sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental,
intelektual dan emocional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan
antara matra kognitif, motorik, afektif, dan psikomotorik. ( A.Yasin, 1984, hal
24)
B. Rasional CBSA Dalam Pembelajaran
Siswa didik dipandang dari dua sisi yang
berkaitan, yakni sebagai obyek pembelajaran dan sebagai subyek yang belajar.
Siswa sebagai subyek dipandang sebagai manusia yang potencial sedang
berkembangn, memiliki keinginan – keinginan, harapan, dan tujuan hidup,
aspirasi dan motivasi dan berbagai kemungkinan potensi lainnya. Siswa sebagai
subyek dipandang sebagai yang memiliki potensi yang perlu dibina, diarahkan dan
dikembangkan melalui proses pembelajaran. Karena itu proses pembelajaran harus
dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip manusiawi (humanistik), misalnya
melalui suasana kekeluargaan, keterbukaan dan bergairah serta bervariasi sesuai
dengan keadaan perkembangan siswa bersangkutan.
Penerapan dan pendayagunaan konsep CBSA
dalam pembelajaran merupakan kebutuhan dan sekaligus sebagai keharusan dalam
kaitannya dengan uapaya merealisasikan Sistem Pendidikan Nasional untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional, yang pada giliranya berimplikasi terhadap
system pembelajaran.
Cara belajar siswa aktif tersebut dapat
berlangsung dengan efektif, bila guru melaksanakan peran dan fungsinya secara
aktif dan kreatif, mendorong dan membantu serta berupaya mempengaruhi siswa
untuk mencapai tujuan pembelajaran dan belajar yang telah ditentukan.
Peranan guru bukan sebagai orang yang
menuangkan materi pelajaran kepada siswa, melainkan bertindak sebagai pembantu
dan pelayanan bagi siswa.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan
oleh guru ialah;
1. menyiapkan lembar kerja,
2. menyusun tugas bersama siswa,
3. memberikan informasi tentang kegiatan
yang diulakukan,
4. memberikan bantuan dan pelayanan
apabila siswa mendapat kesulitan,
5. menyampaikan pertanyaan yang bersifat
asuhan,
6. membantu mengarahkan rumusan
kesimpulan umum,
7. memberikan bantuan dan pelayanan
khusus kepada siswa yang lamban,
8. menyalurkan bakat dan minat siswa,
9. mengamati sikap aktifitas siswa.
Kegiatan-kegiatan tersebut menunjukkan,
bahwa pembelajaran berdasarkan pendekatan CBSA tidak diartikan guru menjadi
pasif, melainkan tetap harus aktif namun tidak bersikap mendominisi siswa
menghambat perkembangan potensinya. Guru bertindak sebagai guru inquiry dan
fasilitator.
C. Kadar CBSA
Kadar CBSA ditandai oleh semakin
banyaknya dan bervariasinya keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses
belajar mengajar.
D. Kebaikan dan Kelemahan CBSA
a. Kebaikan CBSA
Kebaikan-kebaikan CBSA, yang dikemukakan
oleh T. Raka Joni bahwa,
1. Ditunjukan melalui keberanian
memberikan urung pendapat tanpa secara eksklusif diminta.
2. Keterlibatan mental di dalam
kegiatan-kegiatan belajar yang telah berlangsung yang ditunjukan dengan
peningkatan diri kepada tugas.
3. Belajar dengan pengalaman langsung
indicator dari CBSA.
4. kekayaan bentuk dan variasi alat
kegiatan belajar mengajar.
5. Kualitas interaksi antar siswa.
b. Kelemahan CBSA
Beberapa kelemahan dari CBSA menurut
Oemar Hamalik;
1. Tidak menjamin dalam melaksanakan
keputusan.
2. Diskusi tak dapat diramalkan.
3. Memasyarakatkan agar siswa memiliki
keterampilan berdiskusi yang diperlukan secara aktif.
4. Membentuk pengaturan fisik dan jadwal
yang luwes.
5. Dapat menjadi palsu jika pemimpin
mengalami kesulitan mempertemukan berbagai pendapat.
6. Dapat didominasi oleh seseorang atau
sejumlah siswa sehingga dia menolak pendapat peserta lain.
E. Rambu-Rambu Penyelenggaraan CBSA
Hakikat CBSA adalah keterlibatan
intelektual-emosional siswa secara optimal dalam proses pembelajaran; dan
setiap proses dapat menemukan kadar CBSA dari suatu proses pembelajaran, maka
perlu mengenal terlebih dahulu rambu-rambu penyelenggara CBSA . yang dimaksud
dengan rambu-rambu CBSA adalah gejala-gejala yang tampak pada perilaku siswa
dan guru baik dalam program maupun dalam proses pembelajaran.
Rambu-rambu yang dimaksud adalah :
1) Kuantitas dan kualitas pengalaman
yang membelajarkan
2) Prakarsa dan keberanian siswa dalam
mewujudkan minat, keinginan, dan dorongan-dorongan yang ada pada dirinya
3) Keberanian dan keinginan siswa untuk
ikut serta dalam proses pembelajaran
4) Usaha dan kreativitas siswa dalam
proses pembelajaran
5) Keingintahuan yang ada pada diri
siswa
6) Rasa lapang dan bebas yang ada pada
diri siswa
7) Kuantitas dan kualitas usaha yang
dilakukan guru dalam membina dan mendorong keaktifan siswa
8) Kualitas guru sebagai inovator dan
fasilitator
F. Evaluasi Belajar Dan Pembelajaran
1. Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi hasil belajar adalah
keseluruhan kegiatan pengukuran, pengolahan, penafsiran, dan pertimbangan untuk
membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah
melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan.
2. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran adalah evaluasi
terhadap proses belajar mengajar diarahkan pada komponen-komponen system
pembelajaran.
3. Pengartian, kedudukan dan
syarat-syarat umum evaluasi
a. Pengertian Penilaian
Penilaian adalah suatu upaya untuk
mengetahui berapa banyak hal-hal telah dimilik oleh siswa dari hal-hal yang
telah diajarkan oleh guru. Pengertian ini menunjukan bahwa pengukuran bersifat
kuantitatif.
b. Kedudukan Evaluasi dalam Proses
Pendidikan
Menurut Schwartz dkk, penilaian adalah
suatu program untuk memberikan pendapat dan penentuan arti atau kaidah suatu
pengalaman. Pengalaman adalah pengalaman yang diperoleh berkat proses
pendidikan. Proses tersebut tampak pada perubahan tingkah laku atau pola
kepribadian siswa
c. Syarat-syarat Umum Evaluasi
Penilaian yang akan dilaksanakan harus
memenuhi persyaratan atau criteria sebagai berikut:
1. Memiliki validitas
2. Mempunyai reliabilitas
3. Objektivitas
4. Efisiensi
5. Kegunaan/kepraktisan
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan makalah ini kami dapat
menarik kesimpulan bahwa dalam pembelajaran ditemukan adanya dua pelaku, guru
berinteraksi dengan siswa, yang keduanya mencapai tujuan pembelajaran atau
sasaran belajar yang serupa. Kadar CBSA dalam interaksi tersebut berbeda-beda.
Pembelajaran ber-CBSA baik berciri (i) pembelajaran berpusat pada siswa, (ii)
guru bertindak sebagai pembimbing pengalaman belajar, (iii) orientasi tujuan
pada perkembangan kemampuan siswa secara utuh dan seimbang, (iv) pengelolaan
pembelajaran menekankan pada kreativitas siswa, dan (v) optimalisasi kadar CBSA
tersebut dapat diprogramkan dalam desain instruksional (persiapan mengajar)
guru. Pembelajaran ber-CBSA merupakan wujud kegiatan atau unjuk kerja guru.
Hampir dapat dikatakan bahwa guru profesional diduga berkemampuan mengelola
pembelajaran berkadar CBSA tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar. 1994. Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara
Dimyati, Mudjiono. 1994. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud
www.google.co.id 




Posting Komentar
Silahkan Komen